RSS

Jumat, 26 Februari 2010

Gaya Bahasa

1. Asosiasi :Gaya perbandungan terhadap benda yang sudah disebutkan dengan member persamaan dengan benda tersebut sehingga jelas pada pembaca keadaan benda itu.

Contoh :

· Mukanya pucat bagai mayat

· Pikrannya kusut seperti benang dilanda ayam

2. Metaphora : Sebuah benda dibandingkan langsung dengan benda lain bersifat sama dengan benda semula.

Contoh :

· Raja siang bersinar diufuk timur

· Dewi malam keluar dari perpaduan

3. Personifikasi : Sifat benda mati diumpamakan dengan makhluk hidup.

Contoh :

· Menjerit peluit kereta malam

· Lonceng memanggil para siswa masuk kelas

4. Metonimia : Gaya bahasa yang menggunakan sebuah kata atau nama yang disamakan dengan suatu benda dipakai untuk menggantikan benda yang dimaksud.

Contoh :

· Dia sedang mengendarai kijang

· Mereka memakai masda bukan holden

5. Pleonasme : Gaya bahasa penegas dengan menggunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu karena yang dinyatakan oleh kata itu terkandung dalam kata sebelumnya.

Contoh :

· Salju putih meliputi pegunungan Himalaya

· Ia menoleh ke samping

6. Hiperbola : Ungkapan penegas sepatah kata di ganti dengan kata lain yang mengandung arti yang lebih hebat.

Contoh :

· Tiba-tiba amarahnya meledak

· Pelawak tersebut berhasil mengoyak-ngoyak perut penonton

  1. Litotes : Gaya bahasa ini mempergunakan kata-kata yang berlawanan dengan maksud merendahkan diri.

Contoh :

    • Apakah saudara mau mengunjungi wubuk kami ?

· Terimalah bingkisan yang tak berarti ini dengan senang hati

  1. Euphimisme (Ungkapan) : Sebuah kata diganti dengan kata yang lain untuk melembutkan artinya supaya sopan terdengarnya.

Contoh :

    • Ijinkan saya hendak ke belakang

· Ibuku sudah kurang pendengarannya

  1. Simbolik : Gaya bahasa kiasan yang melukiskan sesuatu dengan benda-benda lain sebagai simbol atau lambang.

Contoh :

    • Bunglon, lambang bagi yang tak tetap pendiriannya
    • Lintah darat, lmabang dari pemeras
  1. Ironi : Gaya bahasa sindiran yang dikatakan sebaliknya dari pada sebenarnya, dengan maksud menyindir secara halus orang yang diajak bicara.

Contoh :

· Bagus benar tulisanmu, sampai-sampai aku menjadi pusing

  1. Cynisme : Gaya bahasa menyindir lebih kasar dari ironi biasanya tidak dikatakan yang sebaliknya lagi.

Contoh :

    • Muntah aku melihat perbuatanmu itu
    • Mual perutku mendengar kata –katamu yang mencari helah
  1. Sarkasme : Gaya bahasa kiasan yang kasar sekali, memaki-maki dengan kata yang tak akan dipergunakan oleh orang-orang yang sopan.

Contoh :

    • Walaupun engkau mampus tak ada peduliku
    • Mukamu yang seperti monyet itu, jijik aku melihatnya
  1. Repitisi : Sepatah kata diulang beberapa kali untuk mempertegas, sering terdapat dalam prosa.

Contoh :

    • Selama nafas masih mengalun, selama darah masih mengalir, selama jantung masih berdebar, aku tidak akan berhenti berjuang
    • Bahagia tak usah kamu curi kemana-mana, bahagia tak usah kamu buru ke tempat yang jauh, bahagia ada dalam sanubari sendiri.
  1. Klimaks : Gaya bahasa penegasan yang makin lama makin menghebat atau mendaki.

Contoh :

    • Sepeda, motor, beca, mobil menghiasi keramaian lalu lintas.
    • Dari kecil sampai dewasa sampai setua ini, engkau belajar belum juga pandai
  1. Anti klimaks : Gaya bahasa yang mengatakan beberapa hal atau peristiwa berturut-turut dari yang besar hingga kecil, dari yang penting hingga yang kurang penting, jadi makin menurun.

Contoh :

    • Gudung-gedung, rumah-rumah, toko-toko, warung-warung, semuanya mengibarkan sang merah putih
  1. Syneeddoche Pars pro toto : sebagian untuk menyatakan keseluruhan

Contoh :

    • Saya membeli 3 ekor lembu
    • Kami menyaksikannya dengan mata dan kepala kami
  1. Syneedddoche totem pro parte : seluruh untuk menyatakan sebagian

Contoh :

    • Sekolah kami mendapat piala kejuaraan basket
  1. Paradoks : Gaya bahasa pertentangan bila dilihat sepintas lalu, tetapi karena yang dimaksud oleh kata-kata itu objeknya berlianan, maka tak ada pertentangan di dalamnya.

Contoh :

    • Dia kaya tapi miskin ( kaya harta tapi miskin ilmu )
    • Gajinya besar tetapi hidupnya melarat ( jiwanya menderta )
  1. Antithese : Gaya bahasa yang mempergunakan paduan kata-kata ynag berlawanan arti.

Contoh :

    • Hidup matinya, susah senangnya, serahkan kepadaku
    • Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan hadir dalam rapat itu.
  1. Koreksio : Gaya bahasa penegasan yang dipakai menegaskan dengan membenarkan kembali apa yang salah, yang sudah diucapkan baik sengaja atau tidak.

Contoh :

    • Dia adikku, eh bukan kakakku.
    • Ibu sedang di dapur, eh bukan di kamar mandi
  1. Inversi : Pembalikan subjek, predikat menjadi predikat subjek, maksudnya tekanan jatuh pada predikat.

Contoh :

    • Pandai sungguh engkau
    • Pada malam itu terang benar bulan
  1. Pararelisme : Gaya bahasa penegasan ini terdapat pada puisi sepatah kata diulang beberapa kali pada tempat yang sama, bila tempatnya di awal disebut Anaphora, sedangkan bila tempatnya di akhir disebut Epipora.

Contoh :

    • Anaphora : Apatah tetap

Apatah tak bersalin rupa

Apatah boga sepanjang masa

    • Epipora : Kalau kau mau ia akan datang

Bila kau pinta, ia akan datang

Jika kau kehendaki, ia akan datang

  1. Retoris : Gaya bahasa penengasan dengan menggunkan kalimat tanya tidak bertanya, sering bersifat mengejek atau menyatakan kesangsian.

Contoh :

    • Inilah yang kau namakan bekerja ?
    • Mana mungkin orang mati hidup kembali ?
  1. Elipsi : Gaya bahasa yang berbentuk kalimat elips supaya penegasan jatuh pada kata-kata sisa yang tak disebutkan.

Contoh :

    • Mencuri lagi, tiada juga jera jera di hukum
    • Kalau belum jelas kubentangkan sekali lagi