No
|
Lambang
|
Arti
|
1
|
Perisai
|
Upaya keras yang ditempuh secara terus menerus. Hanya orang yang pekerja
keras yang bisa menjadi calon Anggota dengan memenuhi beberapa
persyaratannya.
|
2
|
Rantai (di
sebelah kiri)
|
Ikatan kekeluargaan, persatuan dan persahabatan yang kokoh. Bahwa anggota
sebuah Koperasi adalah Pemilik Koperasi tersebut, maka semua Anggota menjadi
bersahabat, bersatu dalam kekeluargaan, dan yang mengikat sesama anggota
adalah hukum yang dirancang sebagai Anggaran Dasar (AD) / Anggaran Rumah
Tangga (ART) Koperasi. Dengan bersama-sama bersepakat mentaati AD/ART, maka
Padi dan Kapas akan mudah diperoleh.
|
3
|
Kapas dan
Padi (di sebelah kanan)
|
Kemakmuran anggota koperasi secara khusus dan rakyat secara umum yang
diusahakan oleh koperasi. Kapas sebagai bahan dasar sandang (pakaian), dan
Padi sebagai bahan dasar pangan (makanan). Mayoritas sudah disebut
makmur-sejahtera jika cukup sandang dan pangan.
|
4
|
Timbangan
|
Keadilan sosial sebagai salah satu dasar koperasi. Biasanya menjadi
simbol hukum. Semua Anggota koperasi harus adil dan seimbang antara
"Rantai" dan "Padi-Kapas", antara "Kewajiban"
dan "Hak". Dan yang menyeimbangkan itu adalah Bintang dalam Perisai.
|
5
|
Bintang
|
Dalam perisai yang dimaksud adalah Pancasila, merupakan
landasan ideal koperasi. Bahwa Anggota Koperasi yang baik adalah yang
mengindahkan nilai-nilai keyakinan dan kepercayaan, yang mendengarkan suara
hatinya. Perisai bisa berarti "tubuh", dan Bintang bisa diartikan
"Hati".
|
6
|
Pohon
Beringin
|
Simbol kehidupan, sebagaimana pohon dalam Gunungan wayang yang dirancang
oleh Sunan Kalijaga. Dahan pohon disebut kayu (dari bahasa Arab
"Hayyu"/kehidupan). Timbangan dan Bintang dalam Perisai menjadi
nilai hidup yang harus dijunjung tinggi.
|
7
|
Koperasi
Indonesia
|
Koperasi yang dimaksud adalah koperasi rakyat Indonesia, bukan Koperasi
negara lain. Tata-kelola dan tata-kuasa perkoperasian di luar negeri juga
baik, namun sebagai Bangsa Indonesia harus punya tata-nilai sendiri.
|
8
|
Warna Merah
Putih
|
Warna merah dan putih yang menjadi background logo
menggambarkan sifat nasional Indonesia.
|
Minggu, 27 November 2011
Sekilas tentang KOPERASI di Indonesia
Peluang Usaha
Minggu, 02 Oktober 2011
Membaca Peluang Pasar
Adanya peluang pasar terkait kepada kegiatan produksi. Dimana kegiatan produksi itu sendiri adalah suatu kegiatan untuk meningkatkan atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa, dan mengalami perubahan tempat, waktu dan kepemilikannya.
Rumah Tangga Produksi yang mengalami perubahan lingkungan, membaca adanya “Peluang Pasar”, bisa dilihat dari :
¨ Pemerintah
¨ Perubahan Alam atau cuaca atau iklim
¨ Ekonomi
¨ Sosial
¨ Teknologi
Dalam lingkungan sekitar perusahaan, dapat menimbulkan perubahan dalam suatu Rumah Tangga Produksi atau munculnya peluang pasar sesuai dengan keadaan sekitar tempat tersebut. Di lingkungan perusahaan, walaupun terkadang perusahaan sudah menyediakan makanan untuk para karyawannya, tidak dapat dipungkiri juga karyawan terkadang bosan dan ingin suatu suasana makanan di luar perusahaan. Maka peluang pasar yang terlihat yaitu Rumah Makan, tetapi dengan banyaknya Rumah Makan yang bertebaran, kita perlu untuk membuka Rumah Makan yang mempunyai suatu ciri khas untuk menarik para pelanggan. Misalnya dari jenis makanan, namanya, tempat dan yang terpenting kualitas yang tinggi sesuai dengan harga yang ditentukan dan lingkungan yang ada. Bukan hanya Rumah Makan saja yang bisa menjadi peluang pasar di lingkungan tersebut, tetapi membuka counter pulsa, tempat Foto Copy maupun Toko Kelontong. Sebenarnya tidak hanya dalam lingkungan perusahaan saja, tetapi di setiap jalan keramaian, usaha tersebut bisa menjadi usaha yang menjanjikan.
Dan untuk daerah sekitar kampus, banyak sekali peluang pasar yang menarik dan pasti akan menguntungkan walaupun dipastikan akan banyak pesaing-pesaing yang akan bermunculan. Peluang pasar tersebut diantaranya yaitu tempat foto copy, rumah makan, jasa laundry, penyewaan kost-an atau kontrakan, warnet dan toko kelontong. Usaha-usaha tersebut yang berada di daerah kampus, akan selalu menjadi ladang yang bagus karena memang menjadi kebutuhan keseharian dari para mahasiswa. Dengan harga standar yang sesuai dengan keadaan saku dari mahasiswa. Saya akan menjelaskan salah satu contoh usaha tersebut dan aspek yang membuat usaha itu menjadi usaha yang menjanjikan.
Ø Penyewaan kost-an atau kontrakan
Mahasiswa yang biasanya tidak mengambil pusing untuk datang ke kampus, banyak yang memilih untuk menge-kost di sekitar daerah kampus mereka. Dapat menjadi suatu peluang pasar yang menjanjikan, dapat dilihat dari :
v Aspek ekonomi
Biasanya pilihan untuk menge-kost bagi mereka yang mempunyai tempat tinggal yang jauh, entah itu di luar daerah atau kota, ataupun masih dalam kota tetapi untuk akses transportasinya yang sulit. Daripada mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk setiap kalinya pergi ke kampus dari tempat tinggal, mahasiswa lebih memilih untuk menge-kost dengan biaya yang lebih terjangkau lagi dengan akses tempat kost yang dekat dengan kampus. Bukan hanya kost-an, tetapi kontrakan juga bisa lebih terjangkau ditambah apabila kita menyewanya secara rombongan.
v Aspek sosial
Banyak mahasiswa yang memilih untuk menge-kost, tidak sekedar untuk mengurangi biaya ekonomi yang dikeluarkan, tetapi menge-kost bisa menjadi suatu tempat untuk mahasiswa saling mengenal dengan mahasiswa lainnya yang berada dalam lingkungan tempat kost tersebut. Hal tersebut bisa membuat terjalinnya pertemanan yang lebih luas dan keakraban, dimana kita bisa saling berbagi informasi dan tukar pikiran satu dengan yang lain, dan tidak hanya dari satu kampus yang sama, tetapi tidak menutup kemungkinan kita dapat mengenal dan berteman dengan mahasiswa yang berlainnya kampus dengan kita. Selain itu, membuat penyewaan kost untuk pria dan wanita atau dipisahkan agar menjadi lebih nyaman dalam setiap aktifitas mereka.
v Perubahan alam atau cuaca atau iklim
Dengan keadaan cuaca yang tidak menentu, bisa membuat para mahasiswa yang bertempat tinggal jauh menjadi kesulitan untuk pergi atau pulang dari kampus apabila tiba-tiba terjadinya hujan lebat. Mungkin bagi sebagian orang, itu adalah hal biasa yang tidak perlu dikhawatirkan, tetapi ada juga mereka yang menjadi malas untuk ke kampus karena hujan dan tempat tinggal jauh, dan mereka yang mau pulang dengan keadaan yang sedang hujan membuat semuanya menjadi sulit ditambah apabila transportasi yang dipakai tidak memiliki armada yang banyak. Dari sebab berikut, bisa membuat para mahasiswa yang bertempat tinggal jauh, berpikir untuk lebih baik menyewa suatu tempat kost.
Rumah Tangga Produksi yang mengalami perubahan karena lingkungan sekitar, menimbulkan atau memunculkan peluang pasar. Biasanya usaha-usaha yang dibentuk tersebut, sebelumnya sudah banyak bermunculan. Maka dari hal itulah, jiwa seorang wirausaha dituntut untuk menciptakan dan mengembangkan suatu kreatifitas dan inovasi yang bisa memikat atau membedakan dengan usaha yang sama dengan kita. Dari harga, kualitas, pelayanan yang diberikan dan cara pemasarannya merupakan kunci dari berhasil atau tidaknya suatu usaha tersebut dan bisa menjadi suatu ciri khas dari usaha yang kita buat.
Selasa, 26 April 2011
Perbedaan STAFF dan WORKER
‘Staff’ dan ‘Worker’ merupakan sebutan-sebutan bagi orang yang bekerja, yang sering dianggap sama artinya, tetapi sebenarnya adalah berbeda.
Menurut saya,
Staf yaitu seseorang yang memiliki keahlian dalam suatu bidang tertentu, yang tugasnya memberikan nasihat atau saran dalam pekerjaan yang dibidanginya kepada pimpinannya. Secara singkat, staff perlu suatu keahlian atau keterampilan, dengan pendidikan yang dimilikinya lebih tinggi dari worker.
Kalau worker yaitu ruang lingkupnya lebih kecil dari staff, biasanya worker sebutan untuk orang yang bekerja tidak di kantoran. Biasanya balas jasa yang diterima staff dinamakan gaji sedangkan worker lebih mengenal upah dari balas jasa atas pekerjaan yang dilakukan.
Dengan keahlian dan pendidikan yang lebih tinggi, membuat Staff mendapatkan gaji jauh lebih tinggi daripada worker. Dan juga, staff bekerja lebih menguras otak atau pikiran sedangkan worker, lebih menguras otot atau tenaga fisik.
Kamis, 21 April 2011
ARTIKEL
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI), pada salah satu pasalnya disebutkan bahwa BI adalah lembaga negara yang independen.
Maksud kalimat tersebut adalah Independen diartikan sebagai lembaga negara yang bebas dari campur tangan pemerintah dan atau pihak lainnya. Selanjutnya, dalam Pasal 9 dinyatakan bahwa pihak lain dilarang melakukan segala bentuk campur tangan terhadap pelaksanaan tugas BI, dan demikian pula BI wajib menolak atau mengabaikan segala bentuk campur tangan dari pihak manapun dalam rangka melaksanakan tugasnya. Independensi tersebut ditandai dengan diberikannya kewenangan penuh pada BI dalam menetapkan target-target yang akan dicapai (goal independence) dan kebebasan dalam menggunakan berbagai piranti moneter (instrument independence) dalam mencapai target tersebut. Selanjutnya, dalam Pasal 10 ditegaskan bahwa BI memiliki kewenangan untuk melaksanakan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi. Demikian pula, untuk lebih meningkatkan efektivitas pengendalian moneter serta kapasitasnya sebagai lender of the last resort, dalam Pasal 11 dinyatakan bahwa pemberian kredit oleh BI kepada bank dibatasi.
Jangka waktu kredit kepada bank maksimal 90 hari dan penggunaannya hanya untuk mengatasi kesulitan pendanaan jangka pendek. Selain itu, kredit tersebut harus dijamin dengan surat berharga yang bernilai tinggi dan mudah dicairkan yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterima oleh bank.
Tujuan dan tugas BI saat ini sesuai dengan undang-undang baru tersebut adalah tujuan BI adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut BI mempunyai 3 tugas utama, yaitu menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi bank. Dalam rangka menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter tersebut, BI berwenang menetapkan sasaran-sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi yang ditetapkan. Perlu dikemukakan bahwa tugas pokok BI berubah sejak diterapkannya undang-undang tersebut, yaitu dari multiple objective (mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memelihara kestabilan nilai rupiah) menjadi single objective (mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah). Dengan demikian tingkat keberhasilan BI akan lebih mudah diukur dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah adalah kestabilan nilai rupiah tercermin dari tingkat inflasi dan nilai tukar yang terjadi. Tingkat inflasi tercermin dari naiknya harga barang-barang secara umum. Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan dan dari sisi penawaran. Dalam hal ini, BI hanya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan, sedangkan tekanan inflasi dari sisi penawaran (bencana alam, musim kemarau, distribusi tidak lancar, dll) sepenuhnya berada diluar pengendalian BI. Oleh karena itu, untuk dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil, diperlukan adanya kerjasama dan komitmen dari seluruh pelaku ekonomi, baik pemerintah maupun swasta. Tanpa dukungan dan komitmen tersebut niscaya tingkat inflasi yang sangat tinggi selama ini akan sulit dikendalikan. Selanjutnya nilai tukar rupiah sepenuhnya ditetapkan oleh kekuatan permintaan dan panawaran yang terjadi di pasar. Apa yang dapat dilakukan oleh BI adalah menjaga agar nilai rupiah tidak terlalu berfluktuasi secara tajam.
BI mengontrol tingkat inflasi dengan cara Seperti dikemukakan diatas bahwa kontrol BI atas inflasi sangat terbatas, karena inflasi dipengaruhi oleh banyak faktor. Oleh karena itu, BI selalu melakukan assessment terhadap perkembangan perekonomian, khususnya terhadap kemungkinan tekanan inflasi. Selanjutnya respon kebijakan moneter didasarkan kepada hasil assessment tersebut. Perlu disampaikan pula bahwa pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan hanya melalui kebijakan moneter, melainkan juga kebijakan ekonomi makro lainnya seperti kebijakan fiskal dan kebijakan di sektor riil. Untuk itulah koordinasi dan kerjasama antar lembaga lintas sektoral sangatlah penting dalam menangani masalah inflasi ini.
Kebijakan moneter BI kedepan yang lebih memfokuskan pada sasaran tunggal inflasi dilakukan dengan cara Sasaran akhir kebijakan moneter BI di masa depan pada dasarnya lebih diarahkan untuk menjaga inflasi. Pemilihan inflasi sebagai sasaran akhir ini sejalan pula dengan kecenderungan perkembangan terakhir bank-bank sentral di dunia, dimana banyak bank sentral yang beralih untuk lebih memfokuskan diri pada upaya pengendalian inflasi. Alasan yang mendasari perubahan tersebut adalah, pertama, bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kebijakan moneter hanya dapat mempengaruhi tingkat inflasi, kebijakan moneter tidak dapat mempengaruhi variabel riil, seperti pertumbuhan output ataupun tingkat pengangguran. Kedua, pencapaian inflasi rendah merupakan prasyarat bagi tercapainya sasaran makroekonomi lainnya, seperti pertumbuhan pada tingkat kapasitas penuh (full employment) dan penyediaan lapangan kerja yang seluas-luasnya. Ketiga, yang terpenting, penetapan tingkat inflasi rendah sebagai tujuan akhir kebijakan moneter akan menjadi nominal anchor berbagai kegiatan ekonomi.
Strategi yang digunakan oleh BI dalam mencapai sasaran inflasi yang rendah adalah :
1. Mengkaji efektivitas instrumen moneter dan jalur transmisi kebijakan moneter.
2. Menentukan sasaran akhir kebijakan moneter.
3. Mengidentifikasi variabel yang menyebabkan tekanan-tekanan inflasi.
4. Memformulasikan respon kebijakan moneter.
Dapat ditambahkan bahwa laju inflasi yang diperoleh dari indeks harga konsumen (IHK) sebagai sasaran akhir dan laju inflasi inti (core atau underlying inflation) sebagai sasaran operasional.
Konsep inflasi inti (core inflation) dapat kita bagi menjadi dua yaitu Berdasarkan pengertiannya, ada 2 konsep dalam pengertian inflasi inti. Pertama, inflasi inti sebagai komponen inflasi yang cenderung ‘menetap’ atau persisten (persistent component) di dalam setiap pergerakan laju inflasi. Kedua, inflasi inti sebagai kecenderungan perubahan harga-harga secara umum (generalized component). Core inflation pada beberapa literatur disebut juga dengan underlying inflation. Inflasi inti inilah yang dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh BI. Di dalam operasionalnya, BI tidak menggunakan inflasi IHK sebagai acuan dalam mengambil kebijakan moneter, namun menggunakan inflasi inti.
Penggunaan inflasi inti sebagai sasaran operasional dikarenakan inflasi inti dapat memberikan signal yang tepat dalam memformulasikan kebijakan moneter. Sebagai contoh, dalam hal terjadi gangguan permintaan (demand shock) yang mengakibatkan inflasi tinggi, respon bank sentral akan mengetatkan uang beredar sehingga tingkat inflasi dapat ditekan. Disamping itu, kebijakan tersebut dapat juga untuk menyesuaikan kembali pertumbuhan ekonomi pada tingkat yang sesuai dengan kapasitas perekonomian. Sebaliknya, jika inflasi meningkat karena terjadinya gangguan penurunan di sisi penawaran (supply side), misalnya kenaikan harga makanan karena musim kering maka kebijakan uang ketat justru dapat memperburuk tingkat harga dan pertumbuhan ekonomi. Respon yang dapat dilakukan oleh bank sentral adalah kebijakan melonggarkan likuiditas perkonomian justru diperlukan untuk menstimulir peningkatan penawaran.
Inflasi yang akan dipakai BI dalam menetapkan targetnya adalah BI menetapkan IHK sebagai targetnya, seperti yang diterapkan di semua negara yang menganut sistem target inflasi secara eksplisit. Ada beberapa alasan yang mendasari dipilihnya IHK sebagai target bank sentral, baik dari sisi teoritis maupun dari segi kepraktisannya. Kelebihan digunakannya IHK ini antara lain adalah merupakan alat ukur yang paling tepat dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat karena IHK mengukur indeks biaya hidup konsumen. Seperti yang berlaku pada negara-negara lain institusi yang bertugas mengumpulkan data statistik selalu memfokuskan sebagian besar sumber dayanya untuk menghasilkan data IHK yang reliable dibandingkan indeks harga lainnya, sehingga hasil pengukuran IHK selalu memiliki kualitas yang lebih baik dan selalu tersedia secara tepat waktu.
Tekanan terhadap angka inflasi dapat dibagi dua Dilihat dari asalnya, tekanan inflasi dapat dibedakan atas domestic pressures (berasal dari dalam negeri) dan external pressures (berasal dari luar negeri). Tekanan yang berasal dari dalam negeri dapat diakibatkan oleh adanya gangguan dari sisi penawaran dan permintaan serta kebijakan yang diambil oleh instansi lain di luar BI, misalnya kebijakan penghapusan subsidi pemerintah, kenaikan pajak, dll. Gangguan dari sisi penawaran dapat timbul apabila terjadi musim kering yang mengakibatkan gagal panen, terjadinya bencana alam, gangguan distribusi tidak lancar dan adanya kerusuhan-kerusuhan sosial yang berakibat terputusnya pasokan dari luar daerah. Gangguan dari sisi permintaan dapat terjadi apabila otoritas moneter menerapkan kebijakan uang longgar.
sumber : http://putracenter.net/2009/01/15/peranan-bank-indonesia-dalam-pengendalian-inflasi/
Opinion :
Inflation is actually good for developing countries, but it’s not over. Inflation for developing like Indonesia, will make to enhance economic growth. For Indonesia, fuel price hike affects inflation, because fuel in Indonesia is still subsidied and no replacement,so the role of government is very important to keep this fuel prices.
I agree with this article, that not only Bank of Indonesia which work to keep inflation rate but we as economic person too. And everyday, Supply and demand in market that we do, influences it too, so keep inflation rate as our job, and one more, not only Bank of Indonesia’s job. Every economic activity that we do, always influences to ather economic aspects.
UNEMPLOYMENT
A. Pengertian Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya seperti ibu rumah tangga, siswa sekolan smp, sma, mahasiswa perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.
B. Jenis-jenis Pengangguran
1. Pengangguran Friksional / Frictional Unemployment
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerjaan.
2. Pengangguran Struktural / Structural Unemployment
Pengangguran struktural adalah keadaan di mana penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
3. Pengangguran Musiman / Seasonal Unemployment
Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seseorang harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti musim tanam, tukan jualan duren yang menanti musim durian.
4. Pengangguran Siklikal
Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.
C. Faktor penyebab terjadinya Pengangguran
1. Ketidaksesuaian antara hasil yang dicapai antara pendidikan dengan lapangan kerja
Umumnya perusahaan atau penyedia lapangan kerja membutuhkan tenaga yang siap pakai, artinya sesuai dengan pendidikan dan ketrampilannya, namun dalam kenyataan tidak banyak tenaga kerja yang siap pakai tersebut. Justru yang banyak adalah tenaga kerja yang tidak sesuai dengan job yang disediakan.
Tingkat Pendidikan memicu Pengangguran
Pertumbuhan ekonomi sangat mempengaruhi angka pengangguran. Melihat kenyataan ini, semestinya lembaga-lembaga pendidikan, punya tanggung jawab moral terhadap lulusannya, jangan sampai menambah deretan jumlah pengangguran yang sudah ada.
banyak orang yang menganggur karena kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia.Pendidikan di Indonesia juga merupakan factor utama yang menyebabkan terjadinya pengangguran.Banyak orang yang tidak mampu menyelesaikan pendidikannya sampai menengah atas ataupun perguruan tinggi.
lembaga pendidikan menjadi kebutuhan semua lapisan masyarakat yang ada di Indonesia. Karena itu pula, dewasa ini begitu menjamur sekolah-sekolah tinggi, akademi dan sejenisnya yang menawarkan program Diploma 1 (D1) hingga D3. Namun, program-program diploma itu, juga terkesan masih mahal menurut ukuran kocek kelas menengah bawah.Pendidikan yang hanya berorientasi kepada kalangan pemilik uang, sesungguhnya merupakan hal yang jauh dari apa yang disebut pendidikan yang membebaskan.
Berbagai kemungkinan dapat menyebabkan peserta didik tak dapat melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang memang karena ketidakmampuan orangtua disebabkan karena memerlukan biaya yang tinggi, selain itu ada pula karena malas, dan lainnya. Justru itu, program life skill seperti bidang komputer, jahit-menjahit, montir, bahasa Inggris serta lainnya sangat besar manfaatnya buat kehidupan karena itu dapat menjadikan mereka setidaknya agar mereka dapat memiliki kemampuan yang lain.Tetapi karena juga banyaknya orang-orang yang kurang menyadari betapa pentingnya pendidikan, mereka tidak perduli dengan nasib mereka sendiri.Oleh karenanya mereka menjalankan kehidupan mereka sendiri dengan yang apa adanya dan kadang juga menggantungkan hidupnya pada orang lain.Karena tidak mempunyai uang untuk membiayai hidupnya mereka terkadang melakukan kejahatan dan tindakan kriminal yang dapat merugikan orang lain.
Dengan upaya-upaya pelatihan life skill, angkatan kerja kita punya keterampilan yang siap pakai dan profesional, sehingga tidak menganggur atau menjadi tenaga kerja murahan.. Orang yang hanya bisa menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat menengah atas saja sebagian besar hanya sebagai buruh-buruh di pabrik hanya sebagian kecil diantara mereka yang bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
2. Ketidakseimbangan demand (permintaan) dan supply (penawaran)
Pengangguran masih tinggi karena permintaan kerja sangat sedikit dibandingkan tenaga kerja yang tersedia.
3. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan masih rendah
Penciptaan SDM oleh perguruan tinggi yang belum memadai, atau belum mencapai standar yang ditetapkan.
4. Malas
Pemikiran beberapa orang yang ingin mendapatkan materi yang berkelebihan dengan cara yang instan atau cepat dan mudah, tanpa harus berusaha dengan kerasnya, disebabkan tidak maunya berlelah dahulu.
5. Umur
Faktor umurpun sering menjadi alasan untuk tidak memperkerjaan seseorang, karena yang sudah usia lanjut kadang kreatifitasnya akan semakin berkurang. Bisa dikatakan, semakin tua semakin sempit pula harapan kita untuk bekerja, meskipun tidak mutlak.
OPINI :
Menurut kami, tingkat pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya pengangguran, begitupun juga dengan pendidikan yang kita jalankan atau dapatkan. Kesadaran dari setiap individu akan pentingnya suatu pendidikan untuk diikuti, bukan hanya secara formal tetapi dapat juga secara informal. Karena sekecil apapun pendidikan yang kita dapatkan bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, pasti akan selalu berdampak pada kehidupan kita, yaitu mengurangi tingkat pengangguran, dikarenakan adanya pengetahuan atau bekal untuk menghadapi dunia kerja.
SOLUSI:
Awal untuk mengatasi pengangguran adalah dari pola pikir masyarakat, dan betapa pentingnya dan pengaruhnya pendidikan bagi setiap aspek kehidupan.
Untuk mengatasi atau menekan terjadinya pengangguran yaitu
Merevisi system pendidikan, dimana lebih banyak kepada praktiknya, dan mempersiapkan generasi muda untuk masuk ke dalam dunia kerja.
Menumbuhkan sifat bekerja keras atau mau berusaha dari setiap individu
Menumbuhkan tingkat kesadaran dalam masing-masing individu akan pentingnya pendidikan untuk bekal masa depan
Mengikuti pelatihan life skill, angkatan kerja kita punya keterampilan yang siap pakai dan profesional
Berani atau tidak malu untuk memulai suatu pekerjaan dari yang biasa
Pemerintah turut campur tangan dalam menambah lapangan kerja baru atau memberi modal usaha bagi mereka yang kurang mampu.
Menumbuhan sifat kewirausahaan, agar tidak terpaku pada lapangan kerja yang ada, tetapi mau membuat suatu lapangan kerja yang baru.
KESIMPULAN :
Pengangguran selain disebabkan karena pendidikan ataupun tingkat ekonomi seseorang, faktornya yang mendukung terjadinya pengangguran juga karena kurangnya kesadaran dan kreatifitas yang harusnya terus dikembangkan agar mempunyai skill yang patut diperhitungkan di dunia usaha.
Kelas : 1EA09
Nama :
¨
¨
¨ Erlita Ardevillana (12210404)
¨ Rika Mustika Dewi (15210945)
¨ Suhartini Umi K.J.H. (16210718)


