RSS

Rabu, 05 Juni 2013

Contoh Proposal

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada zaman yang semakin modern ini, perkembangan teknologi semakin canggih dan banyak diminati, yang salah satunya adalah alat telekomunikasi. Dengan harga alat telekomunikasi yang semakin murah, membuat banyak orang yang menggunakannya. Alat tersebut sudah menjadi suatu kebutuhan bagi setiap orang, karena kegunaannya yang membuat efektif dan efisien dalam berkomunikasi dan pengerjaan sesuatu.
Dari alat telekomunikasi tersebut, tidak akan terlepas dari operator yang digunakan. Perusahaan operator telekomunikasi selular gencar untuk melakukan promosi-promosi yang menarik dalam segala layanannya, seperti dari tarif telepon, sms, koneksi internet, e-banking dan lain-lain. Perusahaan operator telekomunikasi terdiri dari jaringan GSM dan CDMA. Di Indonesia, operator selular yang menggunakan jaringan GSM yaitu Telkomsel, Indosat (IM3, Indosat Mentari dan Indosat Matrix), XL Axiata, Natrindo (Axis) dan Hutchison (Three) sedangkan operator dengan jaringan CDMA yaitu Bakrie Telecom (Esia), Indosat (StarOne), Mobile-8 (Fren, Hepi dan Mobi), Sampoerna Telekom (Ceria), Smart Telecom (Smart), Telkom (Flexi).
Maraknya promosi yang dilakukan operator telekomunikasi, membuat penulis ingin mengetahui keadaan keuangan diantara perusahaan operator selular tersebut. Dalam penulisan ilmiah ini, penulis akan menganalisis perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia yang go public.
Laporan keuangan merupakan alat pengukur bagi keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari periode satu ke periode berikutnya atau membandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis dan mempunyai peran penting bagi pihak luar yaitu kreditor dan investor. Diantara kedua perusahaan tersebut, penulis ingin mengetahui perusahaan mana yang memiliki kinerja keuangan yang lebih baik atau sehat.

Dalam hal ini, penulis akan menilai kinerja keuangan perusahaan operator telekomunikasi selular tersebut dengan menggunakan metode Rasio Keuangan. Metode itu sendiri merupakan metode yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan dengan menggunakan beberapa rasio yaitu diantaranya rasio likuiditas, solvabilitas (leverage), aktivitas dan rentabilitas.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka untuk mempermudah pembahasan, penulis merumuskan permasalahan tersebut sebagai berikut:
a.       Apakah Current Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
b.      Apakah Debt to Asset Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
c.       Apakah Debt to Equity Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
d.      Apakah Total Asset Turnover berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
e.       Apakah Net Profit Margin berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
f.       Apakah Return On Investment berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
g.      Apakah Current Ratio, Debt to Asset Ratio, Debt to Equity Ratio , Total Asset Turnover, Net Profit Margin dan Return On Investment secara keseluruhan berpengaruh signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?

1.3  Batasan Masalah
Agar pokok permasalahan dalam penulisan ilmiah ini tidak melebar terlalu jauh, maka penulis membatasi masalah hanya data laporan keuangan triwulan dari tahun 2007 s/d tahun 2011 pada beberapa perusahaan operator telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4  Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk menganalisis Current Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
b.      Untuk menganalisis Debt to Asset Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
c.       Untuk menganalisis Debt to Equity Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
d.      Untuk menganalisis Total Asset Turnover berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
e.       Untuk menganalisis Net Profit Margin berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
f.       Untuk menganalisis Return On Investment berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?

g.      Untuk menganalisis Current Ratio, Debt to Asset Ratio, Debt to Equity Ratio , Total Asset Turnover, Net Profit Margin dan Return On Investment berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Jenis dan Sumber Penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dokumenter yaitu jenis data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak lain, yang biasanya dalam bentuk publikasi atau jurnal.
Dalam melakukan penelitian ini penulis memperoleh data dari sumber data sekunder yaitu laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

3.2  Dimensi Waktu Penelitian
Waktu penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah laporan keuangan triwulan perusahaan telekomunikasi dari periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.

3.3  Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat dari orang, obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007). Berkaitan dengan penelitian ini, variabel penelitian yang terdiri dari variabel dependen dan variabel independen diuraikan sebagai berikut :
1.       Variabel Dependen
Merupakan variabel yang menjadi pusat perhatian peneliti (Ferdinand, 2006). Variabel dependen yaitu variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel independen. Yang dijadikan sebagai variabel dependen dalam penelitian ini adalah Return on Assets (Y).
2.      Variabel Independen
merupakan variabel yang mempengaruhi variabel dependen, baik yang pengaruhnya positif maupun yang pengaruhnya negatif (Ferdinand, 2006). Variabel independen dalam penelitian ini terdiri dari :
·         Current Asset (X1)
·         Debt to Asset Ratio (X2)
·         Debt to Equity Ratio (X3)
·         Total Asset Turnover (X4)
·         Net Profit Margin (X5)
·         Return on Investment (X6)

3.4  Populasi dan Sampel
1.      Populasi
merupakan keseluruhan dari objek dalam penelitian. Dalam penelitian ini, populasi yang dimaksud yaitu perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang go public (terdaftar di BEI).
2.      Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang dijadikan objek untuk diteliti lebih lanjut. Sampel dari penelitian ini, yaitu:
1)      PT XL Axiata Tbk
2)      PT Indosat Tbk
3)      PT Bakrie Telecom Tbk
4)      PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Metode pengambilan sampel yang penulis gunakan adalah purposive sampling, dengan pertimbangan adanya kesamaan dalam kelengkapan data yang dibutuhkan penulis yaitu periode laporan keuangan triwulan 5 tahun terakhir ini (2007 s/d 2011).

3.5  Definisi Operasional Variabel
Penilaian sehat atau tidaknya suatu perusahaan biasanya dilihat dari kinerja perusahaan yang dapat diketahui lewat analisis laporan keuangan.
Variabel-variabel yang diteliti diantaranya:
1.      Variabel Dependen (Y)
Merupakan variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel independen (X). Variabel dependen pada penelitian ini diukur oleh Return On Assets (ROA). ROA merupakan ukuran tingkat profitabilitas ditinjau dari jumlah asset yang dimiliki. Indikatornya adalah semakin tinggi rasio tersebut maka semakin baik.
2.      Variabel Independen (X)
Merupakan variabel yang mempengaruhi variabel dependen (Y). Variabel independen yang dipergunakan dalam penelitian ini diantaranya:
a)      Current Asset (X1)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio likuiditas. CR merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar.
b)      Debt to Asset Ratio (X2)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio solvabilitas. DAR merupakan rasio yang mengukur persentase total harta yang disediakan untuk kreditor.
c)      Debt to Equity Ratio (X3)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio solvabilitas. DER merupakan rasio yang mengukur persentase total ekuitas yang disediakan untuk kreditor.
d)     Total Asset Turnover (X4)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio aktivitas. TAT merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan dengan jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tertentu. 
e)      Net Profit Margin (X5)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio profitabilitas. NPM merupakan rasio yang mengukur laba bersih yang dihasilkan dari setiap nilai penjualan.


f)       Return on Investment (X6)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio profitabilitas. ROI merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dari aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba.

            Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diringkas dalam tabel berikut:

3.6  Teknik Analisis Data
Setelah data yang diperlukan terkumpul, maka langkah selanjutnya yaitu melakukan penganalisaan terhadap data. Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan dan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, maka berikut analisis data yang dilakukan bertujuan untuk mengkaji kebenaran hipotesis bersama penjelasannya:

3.6.1      Analisis Uji Asumsi Klasik
      Sebelum dilakukannya analisis regresi berganda, diperlukan terlebih dahulu melakukan uji asumsi klasik, yaitu sebagai berikut:
1.      Uji Multikolinieritas
Uji ini dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ada korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi berarti terdapat problem multikolinieritas. Pengujian ada tidaknya gejala multikolinearitas dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks kolerasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance- nya. Apabila nilai matriks korelasi tidak ada yang lebih besar dari 0,5 maka dapat dikatakan data yang akan dianalisis terlepas dari gejala multikolinearitas. Kemudian apabila nilai VIF berada dibawah 10 dan nilai tolerance mendekati 1, maka diambil kesimpulan bahwa model regresi tersebut tidak terdapat problem multikolineritas (Imam Gozali, 2001).
2.      Uji Autokorelasi
Menurut Sutanto (2001) suatu keadaan dimana masing-masing nilai Y bebas satu sama lain. Jadi nilai dari tiap-tiap individu saling berdiri sendiri. Tidak diperbolehkan nilai observasi yang berbeda yang diukur dari satu individu diukur dua kali.  Untuk mengetahui asumsi ini dilakukan dengan cara uji Durbin-Watson dengan ketentuan sbb:
·         Bila nilai durbin antara -2 s.d. +2 berarti asumsi independensi terpenuhi atau tidak terjadi autokorelasi.
·         Bila nilai durbin dibawah  -2 dan diatas. +2 berarti asumsi independensi tidak terpenuhi atau terjadi autokorelasi.
(Untuk menentukan uji ini dapat dilihat pada output regresi linear ganda tabel Model Summary kolom Durbin-Watson)

3.6.2      Analisis regresi berganda
      Berdasarkan permasalahan dan hipotesis yang telah disajikan, maka teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
                        y    =    a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + b5x5 + b6x6 + e
      ket :     y          =    Variabel terikat
                  a          =    Konstata
                  b1....b4  =    Koefisien regresi X1…..X6
                  X1        =    Current Ratio
                  X2        =    Total Debt to Total Asset Ratio
                  X3        =    Total Debt to Equity Ratio
                  X4          =    Total Asset Turnover
                  X5          =    Net Profit Margin
                        X6          =    Rate of Return on Investment
                  Y         =    Return on Asset
      Dari hasil pengolahan data dengan program SPSS akan dilakukan analisis secara diskriptif dan pembuktian hipotesis.

3.6.3      Uji Hipotesis (Uji F dan Uji t)   
a.      Uji serempak (Uji F)
Untuk menguji kebenaran hipotesis pertama digunakan uji F yaitu untuk menguji keberartian regresi secara keseluruhan dengan rumus hipotesis sebagai berikut:
            H0  :     b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = 0
            Ha  :     bi = minimal satu koefisien ¹ 0
Pengujian dengan uji F variansnya adalah dengan membandingkan Fhitung (Fh) dengan Ftabel (Ft) pada α = 0,05 apabila hasil perhitungannya menunjukkan:
                  1)   Fh ≥ Ft, maka H0 ditolak dan Ha diterima
Artinya variasi dari model regresi berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat).
                  2)   Fh < Ft, maka H0 diterima dan Ha ditolak
Artinya variasi dari model regresi tidak berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat).

b.      Uji Parsial (Uji t)
Untuk menguji kebenaran hipotesis kedua, langkah oertama yang dilakukan adalah menentukan koefisien regresi (bi) yang paling besar, selanjutnya dilakuakukan pengujian secara parsial melalui uji t. Adapun rumusan hipotesis dengan menggunakan uji t yaitu sebagai berikut:
                  H0  :     b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = 0
                  Ha  :     bi ¹ 0
Pengujian dilakukan melalui uji t dengan membandingkan thitung (th) dengan t tabel (tt) pada a 0,05. Apabila hasil perhitungan menunjukkan:
                  1)   th  ≥ tt  maka H0 ditolak dan Ha diterima
Artinya variasi variabel bebas dapat menerangkan variabel variabel terikat dan terdapat pengaruh diantara kedua variabel yang diuji.
                  2)   th < tt maka H0 diterima dan Ha ditolak
Artinya variasi variabel bebas tidak dapat menerangkan variabel terikat dan terdapat pengaruh antara dua variabel yang diuji.
Pengujian dapat dilakukan juga dengan melihat dari nilai signifikannya, yaitu:
Ø  Jika nilai signifikan / P-Value > 0,05 ; maka Ho diterima
Ø  Jika nilai signifikan / P-Value < 0,05 ; maka Ho ditolak

3.6.4        Analisis Uji Korelasi dan koefisien determinasi
Uji korelasi merupakan suatu metode pengujian yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang datanya kuantitatif. Selain dapat mengetahui derajat keeratan hubungan korelasi juga dapat digunakan untuk mengetahui arah hubungan dua variabel numerik, misalnya apakah hubungan berat badan dan tinggi badan mempunyai derajat yang kuat atau lemah dan juga apakah kedua variabel tersebut berpola positif atau negatif. (Armaidi, 2010)
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut :
1.      0,00 – 0,199  = sangat rendah
2.      0,20 – 0,399  = rendah
3.      0,40 – 0,599  = sedang
4.      0,60 – 0,799  = kuat
5.      0,80 – 1,000  = sangat kuat
Koefisien determinasi adalah proporsi keragaman atau variansi total nilai peubah Y yang dapat dijelaskan oleh nilai peubah X melalui hubungan linier. (Draper, 1992). Koefisien determinasi dilambangkan dengan R2. Nilai ini menyatakan proporsi variasi keseluruhan dalam nilai variabel dependen yang dapat diterangkan atau diakibatkan oleh hubungan linier dengan nilai variabel independen, selain itu diterangkan oleh peubah yang lain (galat atau peubah lainnya).

Proposal

Pendahuluan
Latar Belakang
Latar belakang adalah dasar atau titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar mengenai apa yang ingin kita sampaikan. Latar belakang yang baik harus disusun dengan sejelas mungkin dan bila perlu disertai dengan data atau fakta yang mendukung. Beberapa hal yang terdapat dalam latar belakang adalah:
1.      Kondisi ideal mencakup keadaan yang dicita-citakan, atau diharapkan terjadi. Kondisi ideal ini biasa dituangkan dalam bentuk visi dan misi yang ingin diraih.
2.      Kondisi aktual merupakan kondisi yang terjadi saat ini. Biasa menceritakan perbedaansituasi antara kondisi saat ini dengan kondisi yang dicita-citakan terjadi.
3.      Solusi merupakan saran singkat atau penawaran penyelesaian terhadap masalah yang dialami sebelum melangkah lebih lanjut ke pokok bahasan.
Selain itu, latar belakang dapat pula mengandung perbandingan dan penyempurnaan atas tulisan mengenai topik yang sama sebelumnya.

Perumusan masalah
Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. 
Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. 
Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai-sampai memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri. 
Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat, meliputi perumusan masalah deskriptif, apabila tidak menghubungkan antar fenomena, dan perumusan masalah eksplanatoris, apabila rumusannya menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena. 
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu:
1.      sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan.
2.      sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.
3.      sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.
4.      para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian. 
Ada tiga kriteria dalam merumuskan masalah yaitu:
1.      Dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan manusaia.
2.      Dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.
3.      Suatu perumusan masalah yang baik, juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia. 

Pembatasan masalah
Pembatasan masalah dalam penelitian lebih didasarkan pada tingkat kepentingan, urgensi dan feasibilitas masalah yang akan dipecahkan, selain juga faktor keterbatasan tenaga, dana dan waktu.
·         Suatu masalah dikatakan penting jika masalah tersebut tidak dipecahkan melalui penelitian, maka akan semakin menimbulkan masalah baru.
·         Masalah dikatakan urgen (mendesak) apabila masalah tersebut tidak segera dipecahkan melalui penelitian, maka akan semakin kehilangan berbagai kesempatan untuk mengatasi.
·         Masalah dikatakan feasible apabila terdapat berbagai sumber daya untuk memecahkan masalah tersebut.
·         Untuk menilai masalah tersebut penting, urgen, dan feasible, maka perlu dilakukan melalui analisis masalah.

Tujuan Penelitian
Memuat uraian yang menyebutkan secara spesifik maksud atau tujuan yang hendak dicapai dari penelitian yang dilakukan. Maksud-maksud yang terkandung di dalam kegiatan tersebut baik maksud utama maupun tambahan, harus dikemukakan dengan jelas.
Cara yang relatif mudah untuk menulis tujuan penelitian adalah menghubungkannya dengan rumusan masalah yang telah dibuat. Rumusan masalah berupa kalimat pertanyaan, jadi tujuan penelitian merupakan hasil yang ingin dicapai dari rumusan masalah tersebut.

Manfaat Penelitian
Setiap hasil penelitian pada prinsipnya harus berguna sebagai penunjuk praktek pengambilan keputusan dalam artian yang cukup jelas. Manfaat tersebut baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan, manfaat bagi objek yang diteliti, maupun manfaat bagi peneliti sendiri.

Hipotesis
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang kan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori. Ada dua bentuk hipotesis yaitu:
1.      hipotesis penelitian; dirumuskan secara naratif berdasarkan kerangka berpikir penelitian & landasan teori yang telah dipilih
a.      Dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan
b.      Tanpa kata diduga
c.       Sudah mengarah (bagaimana bentuk perbedaan atau hubungan yang dipermasalahkan)
d.      Banyaknya sesuai dengan kerangka berpikir dan rumusan masalah
2.      hipotesis statistik; dirumuskan secara matematis dalam bentuk dua kalimat matematika ]
a.      H0: hipotesis nol (null hypothesis); hypothesis of no difference (tanda=)
H1: hipotesis alternatif; lawan H0   (tanda≠, > atau <)
b.      Untuk uji perbedaan
1)      frekuensi;
H0 : ƒ0 = ƒe
H1 : ƒ0 ≠ƒe
2)      mean;
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 > µ2
3)      varians;
H0 : ơ21 = ơ22
H1 : ơ21 ≠ ơ22
c.       Untuk uji hubungan
1)      Sederhana
H0 : ρxy = 0
H1 : ρxy ≠ 0
2)      Multipel
H0 : ρy.12 = 0
H1 : ρy.12 > 0
3)      Kasual
H0 : ρij ≤ 0,05
H1 : ρij > 0,05

Kajian Pustaka
Kajian pustaka dan kerangka teori merupakan kerangka acuhan yang disusun berdasarkan kajian berbagai aspek, baik secara teoritis maupun empiris yang menumbuhkan gagasan dan mendasari usulan penelitian tindakan kelas. Dasar-dasar usulan penelitian tindakan kelas tersebut dapat berasal dari temuan dan hasil penelitian terdahulu yang terkait dan mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tindakan kelas. Ary (1983 ) mengatakan bahwa sangat penting bagi peneliti untuk mencari hasil penelitian terdahulu yang cocok dengan bidang yang diteliti sebagai dasar pendukung pilihan.
Dalam pembahasan kajian pustaka dan kerangka teori perlu diungkapkan kerangka acuhan komprehensif mengenai konsep, prinsip, atau teori yang digunakan sebagai landasan dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Uraian dalam kajian pustaka diharapkan menjadi landasan teoritik mengapa masalah yang dihadapi dalam penelitian tindakan kelas perlu dipecahkan dengan strategi yang dipilih. Kajian teoritik mengenai prosedur yang akan dipakai dalam pengembangan juga dikemukakan.
Kajian pustaka dan kerangka teori dipaparkan dengan maksud untuk memberikan gambaran tentang kaitan upaya pengembangan dengan upaya-upaya lain yang mungkin sudah pernah dilakukan para ahli untuk mendekati permasalahan yang sama atau relatif sama. Dengan demikian pengembangan yang dilakukan memiliki landasan empiris yang kuat. (UM, 2005). Fungsi dari kajian pustaka yaitu:
(1)   mengetahui sejarah masalah penelitian,
(2)   membantu memilih prosedur penyelesaiaan masalah penelitian,
(3)   memahami latar belakang teori masalah penelitian,
(4)   mengetahui manfaat penelitian sebelumnya,
(5)   menghindari terjadinya duplikasi penelitian,
(6)   memberikan pembenaran alasan pemilihan masalah penelitian.
Pembuatan kajian pustaka sebaiknya mengikuti langkah awal, sebagai berikut :
1.      Mencari informasi ke perpustakaan atau internet.
2.      Menyiapkan butir-butir yang perlu dalam mencatat informasi dari pustaka, meliputi kelengkapan sumber informasi, kriteria informasi, cara mencatat sumber informsi dari internet, dan sebagainya. Menyiapkan kartu atau buku untuk mengumpulkan informasi yang relevan. Menyiapkan sistematika pengumpulan informasi.

Metodologi Penelitian
Sumber Data
Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama), sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada.
Contoh data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner, kelompok fokus, dan panel, atau juga data hasil wawancara peneliti dengan nara sumber. Contoh data sekunder misalnya catatan atau dokumentasi perusahaan berupa absensi, gaji, laporan keuangan publikasi perusahaan, laporan pemerintah, data yang diperoleh dari majalah, dan lain sebagainya.

Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan faktor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan.
Jenis sumber data adalah mengenai dari mana data diperoleh. Apakah data diperoleh dari sumber langsung (data primer) atau data diperoleh dari sumber tidak langsung (data sekunder).
Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dkoumentasi dan sebagainya.
Sedangkan Instrumen Pengumpul Data merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.  Karena berupa alat, maka instrumen dapat berupa lembar cek list, kuesioner (angket terbuka / tertutup), pedoman wawancara, camera photo dan lainnya. Adapun tiga teknik pengumpulan data yang biasa digunakan adalah:
1.      Angket
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan responden untuk dijawabnya. Meskipun terlihat mudah, teknik pengumpulan data melalui angket cukup sulit dilakukan jika respondennya cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan angket menurut Uma Sekaran (dalam Sugiyono, 2007:163) terkait dengan prinsip penulisan angket, prinsip pengukuran dan penampilan fisik.
2.       Observasi
Salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi). Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang tidak terlalu besar.
3.      Wawancara
Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau sumber data.
Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif). Wawancara terbagi atas wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara sistematis. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari responden.

            Metode Analisis Data
Metode analisis data ini terbagi menjadi dua yaitu metode analisis kuantitatif dan metode analisis kualitatif (Silalahi, 2006:304). Analisis kuantitatif ini menggunakan data statistik dan dapat dilakukan dengan cepat, sementara analisis kualitatif ini digunakan untuk data kualitatif yang data yang digunakannya adalah berupa catatan-catatan yang biasanya cenderung banyak dan menumpuk sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menganalisisnya secara saksama (Silalahi, 2006:305).
Metode kuantitatif ini menggunakan statistik sebagai alat analisis datanya (Silalahi, 2006:305) Statistik ini diartikan sebagai metode pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara penafsiran dan penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data yang telah diperoleh sebelumnya melalui observasi dan penganalisaan yang dilakukan melalui aturan-aturan dan prosedur-prosedur tertentu. Fungsi utama dari statistik adalah memanipulasikan dan meringkaskan data yang berupa angka serta membandingkan hasil yang diperoleh dengan kebetulan-kebetulan yang telah diperkirakan. Analisis data kuantitatif dan statistik ini  mampu memperlihatkan hasil-hasil pengukuran yang cermat karena perhitungannya yang matematis. Namun kemudian hal ini tidak berarti bahwa kecermatan tersebut merupakan jaminan dalam keabsahannya atau validitasnya.
Dalam statistik ini terdapat pilihan uji statistik dimana data ini dapat dipilah-pilah berdasarkan tujuan penelitiannya (Silalahi, 2006:306). Jika penelitiannya bertujuan untuk mengetahui status dan mendeskripsikan suatu fenomena berdasarkan data yang terkumpul, maka analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif sehingga tabel yang nantinya disusun hanyalah memuat satu variabel pengamatan saja. Sementara itu, jika penelitiannya bertujuan agar dapat mengetahui hubungan antara dua fenomena baik asosiasi sejajar ataupn hubungan kausal maka bentuk analisis datanya adalah analisis korelasional dan tabel yang digunakan ini akan memuat dua atau lebih variabel pengamatan yang disusun dalam satu tabel yang juga disebut sebagai tabel silang.
Kemudian, pilihan penggunaan uji statistik ini ditentukan oleh tujuan penelitian, tipe hipotesis dan tingkat data (Silalahi, 2006:307). Pertama, berdasarkan tujuan penelitiannya, pilihan metode statistik yang digunakan dapat untuk tujuan deskripsi dan inferensi. Lalu, jika berdasarkan tingkat data, yakni data bisa saja berbentuk nominal, ordinal dan interval atau rasio; atau kualitatif dan kuantitatif, disktrit atau kontinu. Ketiga adalah berdasarkan tipe hipotesis, dimana tipe hipotesis dalam penelitian sosial ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu hipotesis perbedaan, baik hipotesis perbedaan antara sampal maupun antara variabel dan hipotesis asosiasi antara variabel. Tiap-tiap tipe hipotesis ini menggunakan uji statistik tertentu.
Analisis dalam statistik ini terbagi menjadi dua yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial (Silalahi, 2006:308). Statistik deskriptif adalah prosedur-prosedur dalam mengorganisasikan dan menyajikan informasi dalam bentuk yang dapat digunakan dan dapat lebih dimengerti. Statistik deskriptif ini digunakan ketika penelitian itu bertujuan untuk memaparkan data hasil penelitian. Dalam metode kuantitatif ini, data yang sudah tersusun dalam tabel adalah dasar dalam analisis deskriptif. Berikutnya adalah statistik inferensial yang merupakan metode analisis yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur derajat hubungan ataupun perbedaan antara dua variabel (Silalahi, 2006:309). Statistik inferensial ini digunakan ketika penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan antara variabel ataupun menguji hipotesis aosiasi (Silalahi, 2006:308). Terdapat dua pilihan dalam penggunaan statistik inferensial yaitu analisis statistik parametrik dan analisis statistik nonparametrik (Silalahi, 2006:309). Statistik parametrik ini digunakan apabila sampel ditarik secara acak dan data tersebar secara normal dan data hasil pengukurannya adalah interval, sementara statistik nonparametrik digunakan ketika sebaran datanya bersifat normal meskipun sampelnya ditarik secara acak dan data original nya diperoleh melalui pengukuran nominal ataupun ordinal demi mendapatkan kesimpulan yang sah (Silalahi, 2006:310).
Selain metode analisis kuantitatif, terdapat pula metode analisis kualitatif. Analisis data kualitatif ini dilakukan apabila data empiris yang digunakan adalah data kualitatif yang berupa kata-kata dan tidak dapat dikategorisasikan (Silalahi, 2006:311). Menurut Miles dan Huberman dalam Silalahi (2006:311), kegiatan analisis kualitatif ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau klarifikasi. Dalam reduksi data ini terdapat proses pemilihan, penyederhanaan, pengabstraksian dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis yang ada di lapangan. Reduksi data ini merupakan suatu bentuk analisis yang digunakan dalam rangka untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu serta mengorganisasikan data sehingga nantinya kesimpulan dapat ditarik secara tepat dan diverifikasi (Silalahi, 2006:312).
Selanjutnya dalam analisis data kualitatif adalah penyajian data dimana ini berarti sebagai sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan tertentu (Silalahi, 2006:312). Penyajian data kualitatif ini dapat dilakukan dalam berbagai jenis matriks, grafik, jaringan dan bagan, sehingga kemudian penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi dan kemudian dapat menentukan apakah menarik kesimpulan sudah benar ataukah harus terus melakukan analisis demi mendapatkan kesimpulan yang valid (Silalahi, 2006:313). Alur kegiatan yang ketiga dalam analisis data kualitatif adalah menarik kesimpulan atau verifikasi. Menarik suatu kesimpulan ini dilakukan oleh peneliti melalui data-data yang terkumpul dan kemudian kesimpulan tersebut akan diverifikasi atau diuji kebenarannya dan validitasnya (Silalahi, 2006:313).

Selain metode-metode yang telah diutarakan diatas, menurut Blaxter, Hughes & Tight, terdapat lima teknik mengelola data (2001:308-309). Pertama adalah pemberian kode dimana proses memberikan kode pada data ini dapat bermanfaat dalam menyederhanakan dan menstandarkan data. Kedua adalah pemberian anotasi yang berarti pengubahan bahan-bahan tertulis dengan menambahkan catatan atau komentar, ketiga adalah pemberian label yang biasanya dilakukan pada pernyataan dengan kata-kata yang signifikan. Keempat adalah seleksi yang merupakan proses memilih item-item yang menarik yang dapat mewakili argumentasi peneliti. Terakhir adalah rangkuman yang merupakan ringkasan dari keseluruhan data.

Sumber:
file.upi.edu/.../Penelitian.../MASALAH__Pen._Kual.pdf
file.upi.edu/.../Kajian_Pustaka_Pelatihan_KTI-PTK.pdf
rahmagresik.files.wordpress.com/.../metodologi-rahma.ppt