RSS

Minggu, 25 April 2010

what's up with Global Warming

Check out this SlideShare Presentation:

Jumat, 16 April 2010

Tragedi "KOJA BERDARAH"

Kejadian ini terjadi pada tanggal 14 April 2010 di koja lebih tepatnya di daerah makan mbah priok. Tragedi ini terjadi karena permasalahan penggusuran makam mbah priok. Bentrokan berdarah ini terjadi antara masyarakat sekitar yang tergabung dalam ormas dan satpol PP. Bentrokan ini tak tertahankan karena tidak adanya kesepakatan yang di capai antara pihak ahli waris dan pemerintah daerah jakarta. Alasannya, pemakaman itu termasuk yang dikeramatkan karena terdapat makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad alias Mbah Priok. ….Ratusan warga ternyata sudah bersiap-siap menyambut untuk melawan. Kebanyakan mereka membawa senjata tajam. Ban-ban bekas dibakari warga untuk menghadang aparat satpol PP itu. ”Kami siap mati demi mempertahankan makam,” ujar salah seorang warga setengah berteriak.

Sekitar pukul 07.00, bentrok pun tak bisa dihindarkan. Itu terjadi setelah aparat satpol PP merangsek maju menuju areal pemakaman, lalu disambut lemparan batu oleh warga. Tindakan tersebut memancing emosi aparat satpol PP. Mereka lantas membalas serangan itu hingga mengepung gerbang pertama makam yang baru dibangun. Warga semakin marah. Mereka lantas melemparkan sejumlah bom molotov dan petasan. Upaya itu sempat membuat aparat satpol PP mundur. Tak lama kemudian, sebuah ekskavator digerakkan untuk membongkar tembok makam. Aksi tersebut kembali menyulut emosi warga. Di antara mereka ada yang nekat merangsek maju. Bahkan, beberapa di antaranya mengejar sopir ekskavator itu hingga si sopir melarikan diri.

sumber : thephenomena.wordpress.com

Jumat, 26 Februari 2010

Gaya Bahasa

1. Asosiasi :Gaya perbandungan terhadap benda yang sudah disebutkan dengan member persamaan dengan benda tersebut sehingga jelas pada pembaca keadaan benda itu.

Contoh :

· Mukanya pucat bagai mayat

· Pikrannya kusut seperti benang dilanda ayam

2. Metaphora : Sebuah benda dibandingkan langsung dengan benda lain bersifat sama dengan benda semula.

Contoh :

· Raja siang bersinar diufuk timur

· Dewi malam keluar dari perpaduan

3. Personifikasi : Sifat benda mati diumpamakan dengan makhluk hidup.

Contoh :

· Menjerit peluit kereta malam

· Lonceng memanggil para siswa masuk kelas

4. Metonimia : Gaya bahasa yang menggunakan sebuah kata atau nama yang disamakan dengan suatu benda dipakai untuk menggantikan benda yang dimaksud.

Contoh :

· Dia sedang mengendarai kijang

· Mereka memakai masda bukan holden

5. Pleonasme : Gaya bahasa penegas dengan menggunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu karena yang dinyatakan oleh kata itu terkandung dalam kata sebelumnya.

Contoh :

· Salju putih meliputi pegunungan Himalaya

· Ia menoleh ke samping

6. Hiperbola : Ungkapan penegas sepatah kata di ganti dengan kata lain yang mengandung arti yang lebih hebat.

Contoh :

· Tiba-tiba amarahnya meledak

· Pelawak tersebut berhasil mengoyak-ngoyak perut penonton

  1. Litotes : Gaya bahasa ini mempergunakan kata-kata yang berlawanan dengan maksud merendahkan diri.

Contoh :

    • Apakah saudara mau mengunjungi wubuk kami ?

· Terimalah bingkisan yang tak berarti ini dengan senang hati

  1. Euphimisme (Ungkapan) : Sebuah kata diganti dengan kata yang lain untuk melembutkan artinya supaya sopan terdengarnya.

Contoh :

    • Ijinkan saya hendak ke belakang

· Ibuku sudah kurang pendengarannya

  1. Simbolik : Gaya bahasa kiasan yang melukiskan sesuatu dengan benda-benda lain sebagai simbol atau lambang.

Contoh :

    • Bunglon, lambang bagi yang tak tetap pendiriannya
    • Lintah darat, lmabang dari pemeras
  1. Ironi : Gaya bahasa sindiran yang dikatakan sebaliknya dari pada sebenarnya, dengan maksud menyindir secara halus orang yang diajak bicara.

Contoh :

· Bagus benar tulisanmu, sampai-sampai aku menjadi pusing

  1. Cynisme : Gaya bahasa menyindir lebih kasar dari ironi biasanya tidak dikatakan yang sebaliknya lagi.

Contoh :

    • Muntah aku melihat perbuatanmu itu
    • Mual perutku mendengar kata –katamu yang mencari helah
  1. Sarkasme : Gaya bahasa kiasan yang kasar sekali, memaki-maki dengan kata yang tak akan dipergunakan oleh orang-orang yang sopan.

Contoh :

    • Walaupun engkau mampus tak ada peduliku
    • Mukamu yang seperti monyet itu, jijik aku melihatnya
  1. Repitisi : Sepatah kata diulang beberapa kali untuk mempertegas, sering terdapat dalam prosa.

Contoh :

    • Selama nafas masih mengalun, selama darah masih mengalir, selama jantung masih berdebar, aku tidak akan berhenti berjuang
    • Bahagia tak usah kamu curi kemana-mana, bahagia tak usah kamu buru ke tempat yang jauh, bahagia ada dalam sanubari sendiri.
  1. Klimaks : Gaya bahasa penegasan yang makin lama makin menghebat atau mendaki.

Contoh :

    • Sepeda, motor, beca, mobil menghiasi keramaian lalu lintas.
    • Dari kecil sampai dewasa sampai setua ini, engkau belajar belum juga pandai
  1. Anti klimaks : Gaya bahasa yang mengatakan beberapa hal atau peristiwa berturut-turut dari yang besar hingga kecil, dari yang penting hingga yang kurang penting, jadi makin menurun.

Contoh :

    • Gudung-gedung, rumah-rumah, toko-toko, warung-warung, semuanya mengibarkan sang merah putih
  1. Syneeddoche Pars pro toto : sebagian untuk menyatakan keseluruhan

Contoh :

    • Saya membeli 3 ekor lembu
    • Kami menyaksikannya dengan mata dan kepala kami
  1. Syneedddoche totem pro parte : seluruh untuk menyatakan sebagian

Contoh :

    • Sekolah kami mendapat piala kejuaraan basket
  1. Paradoks : Gaya bahasa pertentangan bila dilihat sepintas lalu, tetapi karena yang dimaksud oleh kata-kata itu objeknya berlianan, maka tak ada pertentangan di dalamnya.

Contoh :

    • Dia kaya tapi miskin ( kaya harta tapi miskin ilmu )
    • Gajinya besar tetapi hidupnya melarat ( jiwanya menderta )
  1. Antithese : Gaya bahasa yang mempergunakan paduan kata-kata ynag berlawanan arti.

Contoh :

    • Hidup matinya, susah senangnya, serahkan kepadaku
    • Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan hadir dalam rapat itu.
  1. Koreksio : Gaya bahasa penegasan yang dipakai menegaskan dengan membenarkan kembali apa yang salah, yang sudah diucapkan baik sengaja atau tidak.

Contoh :

    • Dia adikku, eh bukan kakakku.
    • Ibu sedang di dapur, eh bukan di kamar mandi
  1. Inversi : Pembalikan subjek, predikat menjadi predikat subjek, maksudnya tekanan jatuh pada predikat.

Contoh :

    • Pandai sungguh engkau
    • Pada malam itu terang benar bulan
  1. Pararelisme : Gaya bahasa penegasan ini terdapat pada puisi sepatah kata diulang beberapa kali pada tempat yang sama, bila tempatnya di awal disebut Anaphora, sedangkan bila tempatnya di akhir disebut Epipora.

Contoh :

    • Anaphora : Apatah tetap

Apatah tak bersalin rupa

Apatah boga sepanjang masa

    • Epipora : Kalau kau mau ia akan datang

Bila kau pinta, ia akan datang

Jika kau kehendaki, ia akan datang

  1. Retoris : Gaya bahasa penengasan dengan menggunkan kalimat tanya tidak bertanya, sering bersifat mengejek atau menyatakan kesangsian.

Contoh :

    • Inilah yang kau namakan bekerja ?
    • Mana mungkin orang mati hidup kembali ?
  1. Elipsi : Gaya bahasa yang berbentuk kalimat elips supaya penegasan jatuh pada kata-kata sisa yang tak disebutkan.

Contoh :

    • Mencuri lagi, tiada juga jera jera di hukum
    • Kalau belum jelas kubentangkan sekali lagi