RSS

Selasa, 08 Oktober 2013

Pengertian Etika Bisnis



Pengertian etika sering kali disamakan dengan pengertian ajaran moral. Etika berasal dari kata Yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat. Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat. Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yang lain.
 Frans Magnis Suseno menyatakan untuk memahami etika sesungguhnya, perlu dibandingkan dengan ajaran moral. Menurut Frans Magnis Suseno, etika merupakan pemikiran kritis dan dan mendasar mengenai ajaran-ajaran moral. Etika membantu seseorang untuk mengerti mengapa ia harus mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana ia dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral. Etika sebagai ilmu menuntut manusia untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional. Etika menuntut agar seseorang melakukan ajaran moral tertentu karena ia sendiri tahu dan sadar bahwa hal itu memang baik bagi dirinya sendiri dan orang lain. Etika bertujuan membantu manusia agar lebih mampu untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya.
Sedangkan moral berasal dari kata Latin yaitu “Mos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Pengertian harfiah dari etika dan moralitas, sama-sama berarti sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia yang telah diinstitusionalisasikan dalam sebuah adat kebiasaan yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang terulang dalam kurun waktu yang lama sebagaimana dengan sebuah kebiasaan.
Etika sebagai filsafat moral tidak langsung memberi perintah konkret sebagai pegangan siap pakai. Etika dapat dirumuskan sebagai refleksi kritis dan rasional mengenai:
a.      Nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia
b.   Masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma moral yang umum diterima  

Etika sebagai sebuah ilmu yang terutama menitikberatkan refleksi kritis dan rasional diantaranya:
a.      Mempersoalkan apakah nilai dan norma moral tertentu memang harus dilaksanakan dalam situasi konkrit terutama yang dihadapi seseorang, atau
b.      Etika mempersoalkan apakah suatu tindakan yang kelihatan bertentangan dengan nilai dan norma moral tertentu harus dianggap sebagai tindakan yang tidak etis dan karena itu dikutuk atau justru sebaliknya
c.       Apakah dalam situasi konkrit yang dihadapi memang harus bertindak sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat ataukah justru sebaliknya dapat dibenarkan untuk bertindak sebaliknya yang bahkan melawan nilai dan norma moral tertentu.

Etika sebagai Ilmu menuntut orang untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional. Dalam bahasa Kant, etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan bukan secara heteronom. Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas tetapi dapat dipertanggungjawabkan.  
Bertens menyatakan bahwa etika bisnis adalah pemikiran atau refleksi kritis tentang moralitas dalam kegiatan ekonomi dan bisnis. Moralitas selalu berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia, dan kegiatan bisnis merupakan salah satu bentuk kegiatan manusia. Bisnis memang seharusnya dinilai dari sudut pandang moral, sama seperti semua kegiatan manusia lainnya juga dinilai dari sudut pandang moral.
Etika bisnis merupakan alat bagi para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis dengan lebih bertanggung jawab secara moral. Para pemilik perusahaan mengharapkan bahkan menuntut para karyawan bekerja dengan baik sesuai dengan perjanjian kerja yang telah disepakati, agar tidak merugikan perusahaan. Para pemilik perusahaan juga mengharapkan agar relasi bisnis tidak menipu dan bekerja sesuai dengan perjanjian kerjasama yang telah disepakati. Sebaliknya, para pemilik perusahaan sendiri mengikat dirinya untuk bertindak adil terhadap karyawannya, dengan memberikan gaji yang seharusnya menjadi milik para karyawan. Para pemilik perusahaan juga mengikat dirinya agar menjalankan bisnis dengan baik dan tidak berbuat curang kepada relasi bisnis.

sumber :
Keraf, Sonny. 1998. Etika Bisnis, Tuntutan dan Relevansinya. Yogyakarta: Kanisius.
lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126015-RB06P31e-Etikabisnis-Literatur.pdf

Bisnis


Bisnis modern merupakan realitas yang sangat kompleks. Banyak faktor turut mempengaruhi dan menentukkan kegiatan bisnis, antara lain ada faktor organisatoris-manajerial, ilmiah-teknologis, dan politik-sosial-kultural. Kompleksitas bisnis itu berkaitan langsung dengan kompleksitas masyarakat modern sekarang. Sebagai kegiatan social, bisnis dengan banyak cara terjalin dengan kompleksitas bisnis modern itu. Semua faktor yang membentuk berbagai pendekatan ilmiah, khususnya ilmu ekonomi dan teori manajemen. Bisnis sebagai kegiatan sosial bisa disoroti dari tiga sudut pandang yang berbeda tetapi tidak selalu mungkin dipisahkan yaitu sudut pandang ekonomi, moral, dan hukum.


1.       Sudut pandang ekonomis

Bisnis adalah kegiatan ekonomis, dimana terjadinya kegiatan tukar-menukar, jual-beli, memproduksi-memasarkan, bekerja-memperkerjakan, dan interaksi manusiawi lainnya, dengan tujuan yaitu memperoleh keuntungan. Bisnis dapat dilukiskan sebagai kegiatan ekonomis yang kurang lebih terstruktur atau terorganisasi untuk menghasilkan keuntungan. Pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak, tetapi diadakan dalam interaksi. Bisnis berlangsung sebagai komunikasi social yang menguntungkan untuk kedua belah pihak yang melibatkan diri.
Teori ekonomi menjelaskan bagaimana dalam system ekonomi pasar bebas, para pengusaha dengan memanfaatkan sumber daya yang langka (tenaga kerja, bahan mentah, informasi/pengetahuan, modal) menghasilkan barang dan jasa yang berguna untuk masyarakat. Para produsen akan berusaha untuk meningkatkan penjualan sedemikian rupa, sehingga hasil bersih akan mengimbangi atau justru melebihi biaya produksi. Keseimbangan itu penting supaya perusahaan tidak merugi. Tetpai keseimbangan saja tidak cukup. Para pemilik perusahaan mengharapkan laba yang bias dipakai untuk ekspansi perusahaan atau tujuan lain. Jika kompetisi pada pasar bebas berfungsi dengan semestinya, akan menyusul efisiensi ekonomis, artinya hasil maksimal akan dicapai dengan pengetahuan minimal. Hal itu akan tampak dalam harga produk atau jasa yang paling menarik untuk public. Efisiensi merupakan kata kunci dalam ekonomi modern. Untuk mencapai tujuan itu para ekonom telah mengembangkan berbagai teknik atau kiat.

2.       Sudut pandang moral
Dengan tetap mengakui peranan sentral dari sudut pandang ekonomis dalam bisnis, perlu segera ditambahkan adanya sudut pandang lain lagi yang tidak boleh diabaikan, yaitu sudut pandnag moral.  Bsinis yang baik bukan saja bisnis yang menguntungkan. Bisnis yang baik adalah juga bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik-juga dalam konteks bisnis- merupakan perilaku yang sesuai dnegan norma-norma moral, sedangkan perilaku buruk bertentangan dengan atau menyimpang dari norma-norma moral. Suatu perbuatan dapat dinilai baik menurut arti terdalam justru kalau memenuhi standar etis itu.

3.       Sudut pandang hukum
Suatu bisnis terkait juga oleh hokum. “Hukum Dagang” atau “hukum bisnis” merupakan cabang penting dari ilmu hukum modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan dengan bisnis, pada taraf nasional maupun internasional. Seperti etika pula, hukum merupakan sudut pandang normative, akrena menetapkan apa yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hokum bahkan lebih  jelas dan pasti daripada etika, karena peraturan hokum dituliskan hitam atas putih dan ada sanksi tertentu bila melanggarnya.

sumber:
Bertens, Kees. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius.

Rabu, 05 Juni 2013

Contoh Proposal

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada zaman yang semakin modern ini, perkembangan teknologi semakin canggih dan banyak diminati, yang salah satunya adalah alat telekomunikasi. Dengan harga alat telekomunikasi yang semakin murah, membuat banyak orang yang menggunakannya. Alat tersebut sudah menjadi suatu kebutuhan bagi setiap orang, karena kegunaannya yang membuat efektif dan efisien dalam berkomunikasi dan pengerjaan sesuatu.
Dari alat telekomunikasi tersebut, tidak akan terlepas dari operator yang digunakan. Perusahaan operator telekomunikasi selular gencar untuk melakukan promosi-promosi yang menarik dalam segala layanannya, seperti dari tarif telepon, sms, koneksi internet, e-banking dan lain-lain. Perusahaan operator telekomunikasi terdiri dari jaringan GSM dan CDMA. Di Indonesia, operator selular yang menggunakan jaringan GSM yaitu Telkomsel, Indosat (IM3, Indosat Mentari dan Indosat Matrix), XL Axiata, Natrindo (Axis) dan Hutchison (Three) sedangkan operator dengan jaringan CDMA yaitu Bakrie Telecom (Esia), Indosat (StarOne), Mobile-8 (Fren, Hepi dan Mobi), Sampoerna Telekom (Ceria), Smart Telecom (Smart), Telkom (Flexi).
Maraknya promosi yang dilakukan operator telekomunikasi, membuat penulis ingin mengetahui keadaan keuangan diantara perusahaan operator selular tersebut. Dalam penulisan ilmiah ini, penulis akan menganalisis perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia yang go public.
Laporan keuangan merupakan alat pengukur bagi keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari periode satu ke periode berikutnya atau membandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis dan mempunyai peran penting bagi pihak luar yaitu kreditor dan investor. Diantara kedua perusahaan tersebut, penulis ingin mengetahui perusahaan mana yang memiliki kinerja keuangan yang lebih baik atau sehat.

Dalam hal ini, penulis akan menilai kinerja keuangan perusahaan operator telekomunikasi selular tersebut dengan menggunakan metode Rasio Keuangan. Metode itu sendiri merupakan metode yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan dengan menggunakan beberapa rasio yaitu diantaranya rasio likuiditas, solvabilitas (leverage), aktivitas dan rentabilitas.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka untuk mempermudah pembahasan, penulis merumuskan permasalahan tersebut sebagai berikut:
a.       Apakah Current Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
b.      Apakah Debt to Asset Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
c.       Apakah Debt to Equity Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
d.      Apakah Total Asset Turnover berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
e.       Apakah Net Profit Margin berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
f.       Apakah Return On Investment berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
g.      Apakah Current Ratio, Debt to Asset Ratio, Debt to Equity Ratio , Total Asset Turnover, Net Profit Margin dan Return On Investment secara keseluruhan berpengaruh signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?

1.3  Batasan Masalah
Agar pokok permasalahan dalam penulisan ilmiah ini tidak melebar terlalu jauh, maka penulis membatasi masalah hanya data laporan keuangan triwulan dari tahun 2007 s/d tahun 2011 pada beberapa perusahaan operator telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4  Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk menganalisis Current Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
b.      Untuk menganalisis Debt to Asset Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
c.       Untuk menganalisis Debt to Equity Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
d.      Untuk menganalisis Total Asset Turnover berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
e.       Untuk menganalisis Net Profit Margin berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
f.       Untuk menganalisis Return On Investment berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?

g.      Untuk menganalisis Current Ratio, Debt to Asset Ratio, Debt to Equity Ratio , Total Asset Turnover, Net Profit Margin dan Return On Investment berpengaruh secara signifikan terhadap Return On Assets pada perusahaan telekomunikasi yang go publik?
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Jenis dan Sumber Penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dokumenter yaitu jenis data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak lain, yang biasanya dalam bentuk publikasi atau jurnal.
Dalam melakukan penelitian ini penulis memperoleh data dari sumber data sekunder yaitu laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

3.2  Dimensi Waktu Penelitian
Waktu penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah laporan keuangan triwulan perusahaan telekomunikasi dari periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2011.

3.3  Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat dari orang, obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007). Berkaitan dengan penelitian ini, variabel penelitian yang terdiri dari variabel dependen dan variabel independen diuraikan sebagai berikut :
1.       Variabel Dependen
Merupakan variabel yang menjadi pusat perhatian peneliti (Ferdinand, 2006). Variabel dependen yaitu variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel independen. Yang dijadikan sebagai variabel dependen dalam penelitian ini adalah Return on Assets (Y).
2.      Variabel Independen
merupakan variabel yang mempengaruhi variabel dependen, baik yang pengaruhnya positif maupun yang pengaruhnya negatif (Ferdinand, 2006). Variabel independen dalam penelitian ini terdiri dari :
·         Current Asset (X1)
·         Debt to Asset Ratio (X2)
·         Debt to Equity Ratio (X3)
·         Total Asset Turnover (X4)
·         Net Profit Margin (X5)
·         Return on Investment (X6)

3.4  Populasi dan Sampel
1.      Populasi
merupakan keseluruhan dari objek dalam penelitian. Dalam penelitian ini, populasi yang dimaksud yaitu perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang go public (terdaftar di BEI).
2.      Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang dijadikan objek untuk diteliti lebih lanjut. Sampel dari penelitian ini, yaitu:
1)      PT XL Axiata Tbk
2)      PT Indosat Tbk
3)      PT Bakrie Telecom Tbk
4)      PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Metode pengambilan sampel yang penulis gunakan adalah purposive sampling, dengan pertimbangan adanya kesamaan dalam kelengkapan data yang dibutuhkan penulis yaitu periode laporan keuangan triwulan 5 tahun terakhir ini (2007 s/d 2011).

3.5  Definisi Operasional Variabel
Penilaian sehat atau tidaknya suatu perusahaan biasanya dilihat dari kinerja perusahaan yang dapat diketahui lewat analisis laporan keuangan.
Variabel-variabel yang diteliti diantaranya:
1.      Variabel Dependen (Y)
Merupakan variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel independen (X). Variabel dependen pada penelitian ini diukur oleh Return On Assets (ROA). ROA merupakan ukuran tingkat profitabilitas ditinjau dari jumlah asset yang dimiliki. Indikatornya adalah semakin tinggi rasio tersebut maka semakin baik.
2.      Variabel Independen (X)
Merupakan variabel yang mempengaruhi variabel dependen (Y). Variabel independen yang dipergunakan dalam penelitian ini diantaranya:
a)      Current Asset (X1)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio likuiditas. CR merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar.
b)      Debt to Asset Ratio (X2)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio solvabilitas. DAR merupakan rasio yang mengukur persentase total harta yang disediakan untuk kreditor.
c)      Debt to Equity Ratio (X3)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio solvabilitas. DER merupakan rasio yang mengukur persentase total ekuitas yang disediakan untuk kreditor.
d)     Total Asset Turnover (X4)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio aktivitas. TAT merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan dengan jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tertentu. 
e)      Net Profit Margin (X5)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio profitabilitas. NPM merupakan rasio yang mengukur laba bersih yang dihasilkan dari setiap nilai penjualan.


f)       Return on Investment (X6)
Variabel independen ini adalah bagian dari rasio profitabilitas. ROI merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dari aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba.

            Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diringkas dalam tabel berikut:

3.6  Teknik Analisis Data
Setelah data yang diperlukan terkumpul, maka langkah selanjutnya yaitu melakukan penganalisaan terhadap data. Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan dan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, maka berikut analisis data yang dilakukan bertujuan untuk mengkaji kebenaran hipotesis bersama penjelasannya:

3.6.1      Analisis Uji Asumsi Klasik
      Sebelum dilakukannya analisis regresi berganda, diperlukan terlebih dahulu melakukan uji asumsi klasik, yaitu sebagai berikut:
1.      Uji Multikolinieritas
Uji ini dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ada korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi berarti terdapat problem multikolinieritas. Pengujian ada tidaknya gejala multikolinearitas dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks kolerasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance- nya. Apabila nilai matriks korelasi tidak ada yang lebih besar dari 0,5 maka dapat dikatakan data yang akan dianalisis terlepas dari gejala multikolinearitas. Kemudian apabila nilai VIF berada dibawah 10 dan nilai tolerance mendekati 1, maka diambil kesimpulan bahwa model regresi tersebut tidak terdapat problem multikolineritas (Imam Gozali, 2001).
2.      Uji Autokorelasi
Menurut Sutanto (2001) suatu keadaan dimana masing-masing nilai Y bebas satu sama lain. Jadi nilai dari tiap-tiap individu saling berdiri sendiri. Tidak diperbolehkan nilai observasi yang berbeda yang diukur dari satu individu diukur dua kali.  Untuk mengetahui asumsi ini dilakukan dengan cara uji Durbin-Watson dengan ketentuan sbb:
·         Bila nilai durbin antara -2 s.d. +2 berarti asumsi independensi terpenuhi atau tidak terjadi autokorelasi.
·         Bila nilai durbin dibawah  -2 dan diatas. +2 berarti asumsi independensi tidak terpenuhi atau terjadi autokorelasi.
(Untuk menentukan uji ini dapat dilihat pada output regresi linear ganda tabel Model Summary kolom Durbin-Watson)

3.6.2      Analisis regresi berganda
      Berdasarkan permasalahan dan hipotesis yang telah disajikan, maka teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
                        y    =    a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + b5x5 + b6x6 + e
      ket :     y          =    Variabel terikat
                  a          =    Konstata
                  b1....b4  =    Koefisien regresi X1…..X6
                  X1        =    Current Ratio
                  X2        =    Total Debt to Total Asset Ratio
                  X3        =    Total Debt to Equity Ratio
                  X4          =    Total Asset Turnover
                  X5          =    Net Profit Margin
                        X6          =    Rate of Return on Investment
                  Y         =    Return on Asset
      Dari hasil pengolahan data dengan program SPSS akan dilakukan analisis secara diskriptif dan pembuktian hipotesis.

3.6.3      Uji Hipotesis (Uji F dan Uji t)   
a.      Uji serempak (Uji F)
Untuk menguji kebenaran hipotesis pertama digunakan uji F yaitu untuk menguji keberartian regresi secara keseluruhan dengan rumus hipotesis sebagai berikut:
            H0  :     b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = 0
            Ha  :     bi = minimal satu koefisien ¹ 0
Pengujian dengan uji F variansnya adalah dengan membandingkan Fhitung (Fh) dengan Ftabel (Ft) pada α = 0,05 apabila hasil perhitungannya menunjukkan:
                  1)   Fh ≥ Ft, maka H0 ditolak dan Ha diterima
Artinya variasi dari model regresi berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat).
                  2)   Fh < Ft, maka H0 diterima dan Ha ditolak
Artinya variasi dari model regresi tidak berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat).

b.      Uji Parsial (Uji t)
Untuk menguji kebenaran hipotesis kedua, langkah oertama yang dilakukan adalah menentukan koefisien regresi (bi) yang paling besar, selanjutnya dilakuakukan pengujian secara parsial melalui uji t. Adapun rumusan hipotesis dengan menggunakan uji t yaitu sebagai berikut:
                  H0  :     b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = 0
                  Ha  :     bi ¹ 0
Pengujian dilakukan melalui uji t dengan membandingkan thitung (th) dengan t tabel (tt) pada a 0,05. Apabila hasil perhitungan menunjukkan:
                  1)   th  ≥ tt  maka H0 ditolak dan Ha diterima
Artinya variasi variabel bebas dapat menerangkan variabel variabel terikat dan terdapat pengaruh diantara kedua variabel yang diuji.
                  2)   th < tt maka H0 diterima dan Ha ditolak
Artinya variasi variabel bebas tidak dapat menerangkan variabel terikat dan terdapat pengaruh antara dua variabel yang diuji.
Pengujian dapat dilakukan juga dengan melihat dari nilai signifikannya, yaitu:
Ø  Jika nilai signifikan / P-Value > 0,05 ; maka Ho diterima
Ø  Jika nilai signifikan / P-Value < 0,05 ; maka Ho ditolak

3.6.4        Analisis Uji Korelasi dan koefisien determinasi
Uji korelasi merupakan suatu metode pengujian yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang datanya kuantitatif. Selain dapat mengetahui derajat keeratan hubungan korelasi juga dapat digunakan untuk mengetahui arah hubungan dua variabel numerik, misalnya apakah hubungan berat badan dan tinggi badan mempunyai derajat yang kuat atau lemah dan juga apakah kedua variabel tersebut berpola positif atau negatif. (Armaidi, 2010)
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut :
1.      0,00 – 0,199  = sangat rendah
2.      0,20 – 0,399  = rendah
3.      0,40 – 0,599  = sedang
4.      0,60 – 0,799  = kuat
5.      0,80 – 1,000  = sangat kuat
Koefisien determinasi adalah proporsi keragaman atau variansi total nilai peubah Y yang dapat dijelaskan oleh nilai peubah X melalui hubungan linier. (Draper, 1992). Koefisien determinasi dilambangkan dengan R2. Nilai ini menyatakan proporsi variasi keseluruhan dalam nilai variabel dependen yang dapat diterangkan atau diakibatkan oleh hubungan linier dengan nilai variabel independen, selain itu diterangkan oleh peubah yang lain (galat atau peubah lainnya).